POOSI logo
DKI Jakarta
Hot News

Potret Buram Pengemudi Ojol di Jakarta: Berjuang Demi Sesuap Nasi di Tengah Impitan Ekonomi

12 Juni 20265 menit bacaTim Redaksi POOSI
Ilustrasi artikel: Potret Buram Pengemudi Ojol di Jakarta: Berjuang Demi Sesuap Nasi di Tengah Impitan Ekonomi

JAKARTA — Menjadi pengemudi ojek online (ojol) di ibu kota tidak lagi menjanjikan manisnya pendapatan seperti beberapa tahun silam. Gemerlap industri transportasi digital kini menyisakan realita pahit bagi para pekerja jalanan yang harus memeras keringat lebih dalam, hanya demi memastikan dapur rumah tangga mereka tetap mengepul di tengah situasi ekonomi yang kian menjepit.

Kisah pilu ini digambarkan secara nyata oleh Sutarman, seorang driver ojol yang sehari-hari mengadu nasib di kerasnya jalanan Jakarta. Saat ditemui di Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman DKI Jakarta di kawasan Cideng, Jakarta Pusat, ia membagikan keluh kesahnya mengenai penurunan pendapatan yang merosot tajam akibat persaingan yang tidak lagi sehat.

Persaingan Ketat dan Perang Tarif Apligator

Menurut Sutarman, penurunan drastis omzet harian para pengemudi dipicu oleh dua faktor utama: membludaknya jumlah kompetitor di lapangan dan perang tarif yang terus bergulir antar-perusahaan aplikator. Kombinasi ini membuat ruang gerak para driver untuk meraup keuntungan maksimal menjadi kian sempit.

Kondisi makroekonomi yang sedang lesu pun turut andil dalam memperparah keadaan. Daya beli masyarakat yang menurun membuat intensitas warga dalam memesan layanan ojek online ikut berkurang secara signifikan.

""Pendapatan ojol karena persaingan begitu kuat. Karena masalah harga dan banyaknya driver, jadi sekarang nggak bisa maksimal," ujar Sutarman dengan nada pasrah, Jumat (12/6/2026)."

Membawa Pulang Rp 50 Ribu Bersih untuk Keluarga

Ketika berbicara mengenai angka, Sutarman mengungkapkan bahwa dalam sehari ia rata-rata hanya mampu mengumpulkan pendapatan kotor berkisar antara Rp 100.000 hingga Rp 120.000. Angka tersebut tentu jauh dari kata ideal untuk standar hidup di Jakarta, terlebih nominal itu masih merupakan pendapatan kotor yang belum dipotong pengeluaran wajib harian seperti bahan bakar dan konsumsi mandiri saat mengaspal.

"Sehari paling pendapatan Rp 100 sampai 120 ribu. Tapi kan itu belum dipotong buat bensin sama makan. Paling kurang lebih kita bawa pulang ke rumah bisa Rp 50.000 lah," tutur Sutarman.

Uang Rp 50.000 hasil kerja keras seharian di bawah terik matahari dan kepulan asap jalanan itulah yang kemudian ia serahkan kepada sang istri. Di tengah melambungnya harga kebutuhan pokok, uang tersebut harus dicukup-cukupkan untuk memenuhi kebutuhan makan seluruh anggota keluarga agar mereka tidak kelaparan.

Dibayangi Ancaman Krisis Global dan Kenaikan BBM

Kecemasan Sutarman dan rekan-rekan seprofesinya kian menebal saat menatap masa depan. Isu mengenai krisis ekonomi global serta kebijakan penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi seperti Pertamax secara langsung memberikan efek domino yang memukul telak kondisi finansial mereka.

Meskipun Sutarman menggunakan Pertalite untuk operasional motornya, ia tetap terkena dampak tidak langsung berupa antrean yang mengular panjang di setiap SPBU. Hal ini terjadi akibat migrasi konsumen BBM nonsubsidi ke subsidi karena selisih harga yang kian melebar.

Waktu produktif yang seharusnya digunakan untuk mencari atau mengantar penumpang justru habis terbuang dalam antrean bahan bakar. Realita ini menegaskan bahwa profesi ojol kini berada di titik yang sangat rentan, menuntut perhatian lebih dari pihak aplikator maupun regulasi pemerintah daerah demi kelayakan hidup para pekerja sektor informal ini.

Punya info penting dari jalanan? Bantu komunitas driver Indonesia.

Kirim Tips

Komentar Pembaca

Ruang diskusi untuk artikel Potret Buram Pengemudi Ojol di Jakarta: Berjuang Demi Sesuap Nasi di Tengah Impitan Ekonomi akan segera aktif. Sementara itu, kirim masukan atau tips berita ke halaman kontak POOSI.